PANDEGLANG, BantenHeadline.com – Pembangunan disektor pertanian dan perikanan ke depannya akan menghadapi tantangan yang semakin berat. Tantangan itu bukan hanya potensi lahan yang semakin sempit akibat pembangunan, namun juga pada sisi teknologi yang spesifik lokasi dan efisiensi.

Sehingga akan memengaruhi tingkat produksi serta pendapatan masyarakat tani dan nelayan.

Hal itu terungkap dalam sambutan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pandeglang terpilih periode 2018-2023, Anton Khaerulsamsi, di Pendopo Bupati, Senin (1/10).

“Tantangan dalam pembangunan pertanian secara umum adalah kenyataan bahwa pertanian didominasi oleh skala usaha kecil, lahan sempit, modal terbatas, pendidikan rendah,” katanya.

“Sehingga produktivitas usaha tani yang dihasilkan masih rendah karena belum sepenuhnya mampu menerapkan teknologi spesifik lokasi, efisiensi dan belum mampu meningkatkan produksi yang pada akhirnya tingkat pendapatan tani dan nelayan masih rendah,” ujar Anton.

Dia mengungkapkan, sebagai pelaku utama dan usaha dalam mengadopsi inovasi teknologi pertanian, petani perlu dimotivasi melalui arah usaha yang berorientasi pada agrobisnis, agroindustri, dan agrowisata untuk meningkatkan perekonomian petani dan nelayan.

“Selain itu, persoalan yang dihadapi para pejuang tani dan nelayan juga dihadapi masih rendahnya posisi tawa menawar petani dan nelayan terhadap produksi yang dihasilkan,” sambungnya.

KTNA Akan Ambil Peran

Oleh karena itu, dia mendorong KTNA mampu mengambil peran nyata dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut. Kemandirian pangan melalui pencapaian swasembada pangan yang berkelanjutan.

“Sesuai fungsinya, KTNA diarahkan untuk mampu berperan meningkatkan dan mengembangkan kemampuan para anggotanya dalam melaksanakan kegiatan yang diprogramkan,” bebernya.

Maka dari itu lanjut Anton, setelah dikukuhkannya pengurus baru KTNA, pihaknya akan segera mengkonsolidasi persoalan kelembagaan petani dan nelayan, pembiayaan petani, serta persoalan lainnya termasuk akses pemasaran berbagai hasil perikanan serta pertanian Kabupaten Pandeglang.

“KTNA juga akan berperan aktif dalam melakukan supervisi dan advokasi kepada petani dan nelayan, agar mereka berperan aktif dalam pembangunan pertanian perikanan, khususnya dalam meningkatkan kemandirian dan daya saing petani menghadapi pasar global,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Bupati Pandeglang, Irna Narulita menyadari bahwa persoalan penerapan teknologi bagi petani di Pandeglang belum masif. Dampaknya, hasil produksi pertanian maupun perikanan belum optimal.

“Jadi sekarang serba dengan teknologi, bukan cara konvensional lagi. Kalau dulu 1 hektar bisa 26 hari, sekarang dengan combine teknologi, mereka bisa mengerjakan 1 hektar hanya dalam 3 jam,” tutur Irna.

Menurutnya, pemerintah telah berupaya mengkolaborasikan teknologi dalam pembangunan pertanian dengam memberi bantuan alat mesin pertanian. Namun harus diakui bahwa kemampuan petani untuk memanfaatkan alat-alat yang berbasis teknologi belum massal.

“Kalau dulu memang manual dan konvensional. Sekarang lebih kepada teknologi terkini, kita sosialisasikan. Mereka harus diberi pencerahan dalam metode tanam, bahwa program dari pemerintah dibantu mekanisasi dengan alat mesin pertanian,” katanya.

Maka Irna berharap agar KTNA turut mensosialisasikan kepada petani agar tergerak menggunakan alat yang mengadopsi teknologi supaya hasil pertanian lebih meningkat. Akan tetapi di satu sisi, pemerintah melalui juga harus meyakinkan bahwa hasil panen mereka akan ditampung dengan harga yang sesuai.

“Namun dengan penerapan teknologi, pemerintah juga harus menjamin harga tidak di bawah HET. Dan Bulog harus meyakinkan petani bahwa hasil panen mereka akan ditampung. Indonesia menjadi lumbung pangan dunia, berangkat dari Pandeglang,” tegas bupati. (Red-02).