Pelantikan Kepsek Dinilai Tak Bijak, Dua Kepsek Ancam Mogok Kerja

Dua Kepsek Yang Kecewa Terhadap Hasil Pelantikan

PANDEGLANG, BantenHeadline.com – Pelantikan 419 pejabat fungsional di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pandeglang, menyisakan tangis bagi dua Kepala Sekolah (Kepsek) yang mendapat rotasi.

Alasan dua pejabat itu menangis, lantaran tidak terima hasil keputusan yang harus menempatkan mereka di sekolah yang letaknya jauh dari tempat tinggal dan sekolah asal.

Baca juga: Dibuat Berang, Sekda Semprot Kepsek Yang Asyik Ngobrol

Bahkan salah satunya, harus rela dipindahtugaskan ke Kecamatan Cimanggu, yang jaraknya dari pusat Pemerintahan Kabupaten Pandeglang, sekitar 100 km.

Mereka sempat memelas iba dari Sekda Pandeglang, Fery Hasanudin dan Kepala Dindikbud Pandeglang, Olis Solihin, usai pelantikan, agar mempertimbangkan keputusan tersebut.

Emah Mamah, salah seroang guru yang sebelumnya bertugas di SMPN 3 Picung mengaku keberatan jika harus di pindahkan ke SMPN 2 Cimanggu. Pasalnya, jarak tempuh dari kediamannya di Serang, memerlukan waktu lebih dari 3 jam untuk bisa tiba di sekolah yang dipimpinnya saat ini.

Baca juga: Ditanya Soal Kepsek yang Ngobrol Saat Pelantikan, Kadindikbud: Hal Itu Wajar

Bahkan Ia mengancam tidak akan melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Sekolah apabila tim promosi bersikukuh menempatkannya di Selatan Pandeglang.

“Kejauhan, Pak. Saya sudah 8 tahun di SMPN 3 Picung. Di sekolah itu juga kadang harus nginep. Kalau harus ke Cimanggu, Saya enggak kuat, sangat berat. Apalagi Saya perempuan. Kalau begini saya mendingan di rumah saja,” kata Emah yang tidak dapat menyembunyikan kesedihannya, Senin (5/2).

Hal senada dikatakan Oyoh Nurjanah, Kepsek yang sebelumnya bertugas di SMPN 1 Koroncong. Ia juga mengaku keberatan jika harus bertugas di SMPN 3 Banjar.

“Bukan soal jarak, saya keberatan di sana (SMPN 3 Banjar) karena muridnya sedikit. Masa saya merintis lagi, merintis lagi dari dulu,” keluhnya.

Menanggapi hal itu, Sekda Pandeglang, Fery Hasanudin menilai jika hal itu adalah risiko mereka sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang harus siap ditempatkan di mana saja.

“Kalau rumahnya di Serang dan kerja di Pandeglang, itu resiko lah. Kalau sudah jadi Kepsek, itu risiko jabatan jadi harus siap. Soal yang mengancam, silakan saja. Tapi risikonya harus ditanggung,” katanya.

Ia memahami kegelisahan dua Kepsek yang mengeluhkan hasil pelantikan. Namun Fery menjelaskan, selama ini pihaknya berupaya seobjektif mungkin saat menempatkan pejabata. Karena tidak mudah dalam mengatur lokasi pengabdian ratusan Kepsek.

“Tetapi kan sekian banyak Kepala Sekolah yang kami urus. Itu kan tidak bisa sesuai keinginan mereka. Namanya mutasi ada yang puas dan tidak puas. Jalani saja dulu sambil nanti kami lakukan evaluasi,” tandas Sekda. (Red-02).