Oleh: Bin Murarka

Seorang anak lelaki berusia sembilan tahunan tampak sibuk mengantongi beberapa jeruk ke dalam plastik keresek hitam. Setelah merasa cukup penuh kemudian ia menyerahkannya kepada lelaki tua di sampingnya, yang selanjutnya meletakkannya di atas kiloan duduk. Lelaki tua tersebut melihat jarum kiloannya, lalu ia mengambil dua buah jeruk yang sudah ada di dalam kantong keresek dan melemparkannya ke gundukan jeruk di depannya.

Keduanya melakukannya dengan gesit, menyadari beberapa pembeli sudah mengantri ingin dilayani.

“Tak apalah Pak Haji, lebih sedikit ini.”

“Ini juga sudah saya lebihkan, Bu,” ucap lelaki tua yang di panggil Pak Haji tersebut seraya mengulas senyum. Ia membenarkan kopiah putihnya yang miring.

“Semangkanya sekilo, Pak Haji.”

“Kal, ambilkan semangka di bawah kakimu itu!”

Sementara anak lelaki di sampingnya tampak bengong. Pandangannya menelisik melewati celah beberapa tubuh yang berkerumun di depannya. Entah apa yang ia perhatikan. Padahal baru saja tangannya begitu gesit mengantongi buah-buahan yang menggunung.

“Haekal!” hardiknya. “Kerja kok bengong?”

Haekal terperanjat. Ia celingukan melihat Pak Haji dan para pembeli secara berselang, kemudian ia tertunduk. Ia tak enak hati karena sudah ketahuan melamun. Kerjanya begitu lalai.

*****

Haekal duduk di samping lelaki yang tampak begitu kepanasan.

“Kata Pak Haji kerjamu melamun saja. Ada apa?” tanyanya sambil mengipas-ngipaskan sobekan kardus di tangannya. Kaos abu-abu tipisnya begitu lengket oleh keringat.

Sungguh, ingin Haekal berterus terang kepada ayahnya perihal apa yang membuatnya melamun. Ada sesuatu yang ia perhatikan terus-menerus di sela kerjaannya di toko buah Pak Haji. Tapi apakah hal tersebut tidak akan membebani pikiran ayahnya?

Aku harus mengumpulkan uang sendiri untuk membelinya!

Jika menyadari kondisi keluarganya, tentang pekerjaan ayahnya sebagai kuli pikul di pasar, seketika niatnya pun menguap. Bagaimana keinginannya akan terkabul jika makan dua kali sehari saja begitu susah? Ditambah lagi dengan kondisi ibunya yang sering sakit-sakitan. Ah, apakah harapannya hanya menjadi angan-angan semata.

Diliriknya wajah coklat ayahnya yang mengucurkan banyak keringat. Begitu teririsnya hati Haekal. Ia tahu bahwa ayahnya teramat lelah mengangkut berkarung-karung beras dari atas truk ke toko-toko. Batin Haekal mengerang. Hati kanak-kanaknya begitu peka merasakan kepayahan ayahnya.

“Besok kamu gak usah kerja saja. Ayah tahu kamu kecapean. Ayah tidak mau puasamu batal.”

Lelaki tersebut menatap bungsunya begitu dalam. Ada kepedihan pada sorot matanya yang tiba-tiba mengembun. Ia merasa gagal sebagai sosok ayah sejati. Bagaimana ia bisa begitu tega membiarkan anaknya yang masih kelas tiga SD bekerja seharian dalam kondisi berpuasa?

“Maafkan ayah, nak,” lirihnya seraya mengusap lembut rambut merah jagung Haekal, “tak sewajarnya ayah mengizinkanmu bekerja. Harusnya ayah dan kakak-kakakmu yang bekerja keras demi menghidupi keluarga kita.”

“Tapi Ikal masih kuat kok, Yah. Puasa bukan halangan bagi Ikal. Ikal pengin ngumpulin uang buat beli koko yang ada di toko depan warung Pak Haji,” cetus Haekal. Tapi kalimatnya yang ketiga hanya ia ucapkan dalam hati. “Oya, Bang Jupri kerja apa? Kok gak pernah kasih Ikal jajan?”

“Ia bisnis. Uangnya ditabung,” mengucapkan hal demikian hati lelaki tersebut begitu bergemuruh. Bagaimana tidak? Anak sulungnya tersebut sudah melakukan berbagai ulah. Entah pekerjaan apa yang dilakoninya. Hanya desas-desus dari tetangga yang berhasil ia dengar, bahwa anaknya adalah kriminal.

“Bisnis dengan pak polisi ya, Yah? Seperti waktu mereka datang itu?”

Duarrr!!!

Rumah kecil di pinggiran rel kereta itu seakan berguncang. Para penghuninya sudah terbiasa ketika ular besi raksasa dengan belasan gerbong melintasi pekarangannya, menyebabkan rumah mereka berderak-derak. Tapi untuk kali itu berbeda, itu bukan bunyi kereta. Bunyi keras yang berhasil menciutkan hati siapa pun yang mendengarnya.

“Jupri, keluar! Kami sudah mengepung rumahmu!”

Haekal yang baru saja terbangun merasa heran ketika abangnya, Bang Jupri, seketika diseret paksa oleh beberapa polisi. Ternyata ia sama sekali tak mendengar bunyi tembakan yang begitu memekakkan telinga. Ia begitu lelap tertidur. Hanya saja ia mendadak terbangun karena suara gaduh penghuni rumahnya.

“Bang Jupri mau dibawa ke mana?”

“Ooo… Abangmu sedang ada bisnis dengan polisi-polisi tersebut,” tegas ayah ketika itu dengan suara yang bergetar.

*****

Haekal melihat berpasang-pasang kaki menggantung-gantung. Ada dari beberapanya yang sibuk bergerak ke sana-ke mari.

“Mereka tidak puasa ya, Yah?”

Ayah melirik sebentar ke arah tempat yang berhasil menarik perhatian anaknya. Pada warung mie ayam yang bagian atasnya ditutup terpal, tapi bagian bawahnya terbuka lebar. Begitu bodoh dan tak punya malu mereka, pikirnya. Mengaku muslim tapi amalan-amalan wajibnya tak mereka lakoni.

“Tidak semua orang mau menjalankan puasa.”

“Tapi puasa Ramadan kan wajib bagi orang muslim? Ikal saja sudah dua kali puasa meski gak sampai full.”

“Dan kalau puasa Ikal kali ini sampai full, ayah janji akan membelikan sesuatu.”

Haekal terlihat senang. Tapi ia tak mau mengekspresikannya dengan loncat-loncat atau bertepuk tangan, karena ia tidak bisa berharap lebih atas janji ayahnya, apakah akan ditepati? Jika pun tidak, ia tak akan menagihnya. Dan Haekal akan menganggap janji tersebut bukan sebagai janji. Ia menganggap hal tersebut adalah sebuah hadiah, yang tak berdosa jika ayahnya tak menepati atau memberi.

Tapi karena janji tersebut niat Haekal semakin kuat untuk menamatkan puasanya.

“Coba ada teman-teman polisi Bang Jupri ya, Yah? Mereka pasti akan menangkapnya.”

Ayah mengulas senyum. Lalu segera membawa Haekal menjauh. Ia tak mau anaknya melihat lebih parah lagi pemandangan di sekitar pasar yang mereka lalui. Bagaimana beberapa orang ke luar-masuk sebuah rumah makan besar dan ternama di pasar tersebut. Ia tahu apa yang mereka lakukan di dalamnya meski pintu dan jendela-jendelanya tertutup rapat. Ia tak mau berbagai pertanyaan meluncur dari mulut Haekal yang mempunyai rasa penasaran yang kuat.

Sebenarnya ini bukan hanya tugas polisi, nak. Ini tugas diri kita masing-masing. Melarang dan membentengi hawa nafsu kita dengan iman yang kuat.

*****

Sekantong kecil plastik berisi jeruk diletakkan di atas meja.

Haekal segera menemui abangnya di dalam kamar. Seorang lelaki terbelakang mental yang berumur sekitar dua puluh tahunan.

“Ini jeruk untuk abang. Makanlah. Biar tubuh abang gemuk, gak kurus begitu.”

“A-bang, lebih ting-gi, dari kamu hayooo,” mulutnya dimonyongkan, lalu menampik jeruk yang disodorkan Haekal, “Abang puaaa..sa. Kak Murni… Mur-ni… tempeleng…”

Haekal melihat ketakutan pada diri abangnya. Ia tahu jika Kak Murni, kakak perempuannya, kurang menyukai keberadaan abangnya yang terbelakang mental tersebut. Ya, sebenarnya umur Kak Murni dua tahun lebih muda daripada abangnya. Tapi abangnya tersebut kerapkali menyebut adiknya dengan panggilan ‘kak”. Mungkin karena takut.

Haekal masih bisa mencium bau alkohol yang menyeruak berbaur asap rokok yang mengepul dari mulut perempuan di depannya. Ia sesekali menutup hidungnya ketika itu.

“Dasar idiot! Kamu ini harusnya matiii… Teman-temanku pada kabur tauuuk! Buat apa coba kamu datang ke tempatku? Jin apa yang telah membawamu ke sana, hah?”

“Nak, ibu mohon lebih baik kamu berhenti …”

“Ah, ngaco! Dari mana aku dapat duit kalo gak jual dagingku? Buat berobat ibu. Buat makan si dungu ini!” telunjuk Kak Murni mendarat telak tepat di dahi abangnya hingga mengerut ke pojok. “Awas sekali lagi kamu datang ke tempat kerjaku, aku bunuh kamu!”

*****

Haekal menghitung uang dalam genggamannya. Ia tersenyum senang.

Semoga ini cukup!

            Segera ia masuk ke dalam toko di depannya. Tapi ketika ia mencari baju koko yang ia idam-idamkan, koko itu sudah tak ada. Ia pun merengut sedih. Untung pelayan toko memberitahukannya bahwa masih ada koko model seperti itu di ujung pasar. Ia pun segera bergegas. Melihat gang utama penuh sesak oleh pembeli, ia memutuskan untuk lewat belakang.

Haekal seperti menelan ludah ketika menyaksikan seorang anak seusianya sedang asyik menjilati es krim di depannya. Ia merandek sejenak. Tak ada siapa-siapa di sana selain ia dan anak tersebut.

“Kamu mau?”

“Aku puasa.”

“Ambil ini untuk buka nanti,” sekonyong-konyong anak tersebut menyodorkan sebungkus es krim kepada Haekal. Lalu ia membersihkan mulutnya yang belepotan. “Jangan bilang mamaku kalo aku makan es krim di sini. Mama mengira aku puasa.”

Sementara beberapa langkah dari mereka.

“Yang mana anaknya?”

“Katanya yang membawa es krim. Ayo, sebelum ada orang yang melintas ke sini!”

Happp!!! Haekal tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Ia hanya bisa mendengar teriakan lantang dari anak yang memberinya es krim sebelum kesadarannya hilang.

*****

Sambil tertatih-tatih seorang lelaki bergegas menyusuri keremangan malam. Tergopoh-gopoh di atas trotoar lalu masuk ke dalam gang sempit. Dari raut wajahnya terlihat jika ia begitu cemas dan ketakutan. Beberapa jam yang lalu ia sudah mendatangi rumahnya tapi tak ada siapa-siapa.

“Kak… Kak…” ucapnya panik seraya menarik tangan perempuan di depannya, yang kontan membuat perempuan tersebut begitu berang. Ia mendelik memelototi lelaki tersebut dan menepisnya.

“Apa yang kamu lakukan, hah?” hardiknya lalu mendorong lelaki tersebut hingga terjerembab. Perempuan tersebut larak-lirik lalu mengumpat-umpat.

Tiba-tiba… Gappp!!! Ada seseorang mendekapnya dari belakang. Cukup kuat. Perempuan ber-make up menor tersebut berusaha melepaskan dekapannya, tapi tak bisa.

“Siapa kalian?” ia amat terkejut ketika melihat lelaki gondrong muncul di depannya menggoyang-goyangkan sebilah pisau.

“Cukup cantik. Sayang untuk dibunuh.”

“Untung saja upah dari temannya sangat besar.”

“Lagian puasa kok masih saja lo jualan daging,” lalu tanpa pikir panjang si lelaki gondrong melayangkan tangannya ke depan.

Clebbb! Ada erangan panjang terdengar memilukan. Selang beberapa saat ada derap langkah memburu ke arah mereka hingga dua orang lelaki asing yang sudah mencelakai tersebut gegas berlari.

“Abang… Abang buat apa melakukan ini? Tolong abang saya!” ada sesal mendalam dari ucapannya. Ia terpuruk di sisi lelaki yang mengorbankan diri demi keselamatannya. Lelaki yang sudah habis-habisan ia cerca. Lelaki terbelakang mental yang sudah lama ia benci. Dalam hati ia memohon maaf atas kesilapannya.

“I-ikal… diculik. Aku… melihat… di pasar… Pen-jahat… Ayah… ibu di rumah sakit…”

Tanah yang ia pijak seakan bergetar ketika mendengar berita yang disampaikan abangnya.

*****

            “Oalah! Kita salah menculik anak. Sial!”

“Bagaimana ini? Apa kita lepaskan saja? Minta tebusan juga percuma! Lihat saja uang recehan ini! Paling anak ini anak gembel yang habis membongkar celengan.”

“Kita tinggalkan saja ia di sini. Ayo!”

Temaram bohlam membuat ruangan kumuh tersebut tampak kelam. Seorang anak bangkit dan mencari pintu. Di genggamannya ada sepotong roti pemberian dua lelaki yang menculiknya sebelum mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.

Semoga ini cukup untuk buka puasaku.

Ia terisak. Yang sedang menguasai pikirannya hanyalah lembaran uang yang berhasil dirampas si penculik. Itulah yang membuatnya menangis. Ia telah bersusah payah mengumpulkannya, tapi hal itu sia-sia sekarang.

*****

Haekal membuka matanya. Ia terkejut. Kali ini ruangan yang ia lihat teramat berbeda. Tidak kelam lagi.

“Kamu sudah siuman, nak?” ucap ayah lirih sambil menggenggam tangannya.

Haekal masih bingung. Pandangannya berputar ke sekeliling ruangan bercat putih tersebut.

“Tadi pagi Kak Murni menemukanmu pingsan di pinggir rel kereta. Sepertinya kamu berjalan terlalu jauh. Maafkan ayah tidak bisa menjagamu.”

Haekal berusaha mengingat kejadian yang telah menimpanya. Setelah beberapa saat pandangannya pun tertuju pada semangkuk bubur yang tinggal setengah pada meja di sampingnya. Seketika ia menangis.

“Puasa Ikal batal kan?”

“Kamu harus makan obat. Tapi tenang saja, meski puasa Ikal gak full, Ikal tetap mendapatkan hadiah dari ayah,” lalu lelaki tersebut menyerahkan sesuatu pada Haekal.

“Bagaimana ayah tahu kalau Ikal pengin koko?” Haekal bangkit lalu memeluk ayahnya dengan erat. Ada bening menetes pada pipinya. ***