KABUPATEN PANDELANG, BantenHeadline.com – Angka Stunting atau bayi yang tidak tumbuh dengan baik akibat minimnya asupan gizi di Kabupaten Pandeglang tergolong tinggi. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2013, jumlah balita di Pandeglang yang mengalami stunting 46.000 dari 125.000 balita atau 38,57 persen.

Hal itu terungkap saat Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Pandeglang menggelar Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) tingkat pelajar, di sebuah gedung pertemuan di Pandeglang, Kamis (26/7/2018).

“Salah satu penyebabnya karena kurang gizi. Hal itu terjadi karena pola konsumsinya tidak beragam, bergizi, seimbang, dan aman,” kata Kepala Bidang Konsumsi dan Penganekaragaman Tanaman Pangan DKP Pandeglang, Rosi Sukmawati.

Dia mengatakan, pola konsumsi generasi saat ini lebih dominan pada makanan instan. Padahal, kandungan gizi dimakanan tersebut justru membahayakan lantaran disertai bahan kimia. Sementara makanan lokal yang melimpah di Pandeglang, kurang dimanfaatkan dengan baik.

“Kami prihatin dengan angka stunting kita yang tinggi. Karena jika lahir stunting, maka daya tahan tubuhnya sudah kena, terganggu, IQ nya berkurang sehingga mereka tidak bisa tumbuh normal,” bebernya.

Oleh sebab itu pada acara lomba cipta menu kali ini, pihaknya mengedepankan pemanfaatan sumber pangan lokal yang kaya gizi.

“Maka ini lombanya menyajikan sarapan usia remaja non beras. Bisa diganti jagung, ubi, sukun, henjeli, atau singkong. Dan itu kan semuanya ada di Pandeglang, jadi mudah didapat,” terangnya.

Rosi menjelaskan, para peserta yang berasal dari belasan SMP dan SMA, dituntut untuk menciptakan menu yang inovatif. Selain dengan bahan dasar non beras mereka juga wajib membuat makanan ringan dengan bahan tempe.

“Kenapa tempe? Karena kandungan tempe baik. Banyak mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh manusia, salah satunya Antosianin. Mengingat saat ini makanan instan sudah mengganggu generasi kita bahkan mengandung bahan kimia. Jadi tempe bisa mencegah kanker,” urai Rosi.

Sementara itu, salah seorang peserta asal SMAN 2 Pandeglang, Despi Anggraeni mengaku antusias mengikuti acara tersebut. Dia menilai, lomba cipta menu dari panganan lokal itu, dapat memberi wawasan baru bagi para pelajar perihal alternatif makanan lain selain beras.

“Untuk lomba ini baik sekali, karena semua jenjang sekolah dilibatkan. Ini juga sebagai ajang menyalurkan hobi. Saya masak Mufin Tempe Isi Ikan Sayur, Nasi Goreng Hanjeli Selimut Cinta, dan Jusitraw Merah Putih,” katanya. (Red-02).