PANDEGLANG, BantenHeadline.com – Bencana tsunami yang menerjang Kabupaten Serang dan Pandeglang Desember lalu, membuat industri pariwisata di Banten melempem. Objek wisata pantai yang selama ini kerap menjadi andalan, dalam sekejap ditinggalkan wisatawan.

Pasalnya, selain status Gunung Anak Krakatau yang masih menjadi ancaman, infrastruktur disejumlah destinasi juga rusak digulung ombak. Tak ayal kondisi itu memperburuk dunia pariwisata bahari yang ada di Kabupaten Serang dan Pandeglang.

Menyikapi kondisi tersebut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati menyebutkan, pihaknya menyusun tiga langkah pendekatan guna merecovery pariwisata di daerah terdampak bencana.

“Dalam rangka recovery pariwisata, pendekatan yang akan dilakukan adalah pertama menyentuh SDM, kedua penataan destinasi, ketiga promosi,” katanya, Senin (7/1/2018).

Menurutnya, sektor pariwisata pantai didua kabupaten itu diperkirakan baru akan pulih dalam waktu 3 hingga 6 bulan ke depan. Namun dalam waktu dekat, pihaknya akan menggelar rapat koordinasi dengan Kementerian Pariwisata untuk menentukan langkah cepat memulihkan kondisi tersebut.

Sedangkan saat disinggung soal kerugian, Eneng belum dapat merinci. Sejauh ini Dispar Banten baru sebatas merangkum jumlah kerusakan hotel maupun fasilitas lain. Dispar ditiap kabupaten tengah diarahkan untuk menghitung jumlah penurunan wisatawan pasca bencana.

“Kami sudah meminta masing-masing kabupaten untuk mendata jumlah kunjungan wisatawan setelah bencana, termasuk jumlah kerugian. Jadi sampai saat ini kami belum membuat resume, baru sebatas berapa hotel maupun fasilitas penunjang yang rusak,” ujarnya.

Ketua Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Banten, Ade Ervin menambahkan, dampak tsunami terhadap pariwisata begitu terasa. Soalnya, ada beberapa kawasan wisata mengalami kerusakan hingga 90 persen.

“Dilihat secara ekonomis terhadap penurunan jumlah wisatawan, bisa dilihat ketika malam pergantian tahun. Secara visual nampak jelas bahwa kondisi pariwisata kita sangat drop,” keluhnya.

Ade mencontohkan, biasanya satu kawasam wisata bisa dikunjungi oleh 8.000 orang. Namun yang terjadi pada malam itu, tidak satupun kawasan wisata yang didatangi lebih dari 10 orang. Hal itu jelas menunjukkan bahwa industri pariwisata di Banten sedang diuji.

“Biasanya satu destinasi itu bisa masuk sedikitnya 8.000 pengunjung. Sekarang untuk 8 orang saja berat. Jadi bayangkan bila hal itu terjadi dibeberapa destinasi di Banten mulai dari Anyer sampai Tanjung Lesung,” katanya. (Red-02).